Sisi Lain RAKERNAS PERGUNU di Bumi Majapahit


foto para pembesar PERGUNU

Pada taggal 28 Maret 2020, Institut KH. Abdul Chalim  menjadi tempat acara besar yakni Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) yang ke-4. Selain dihadiri oleh pengurus wilayah dan pengurus cabang, acara ini dihadiri pula oleh kurang lebih 1000 anggota Pergunu dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota diseluruh penjuru negri, mereka berbondong-bondong datang ke Mojokerto untuk menyukseskan acara Rakernas Pergunu. Dalam agenda Rakernas yang ke-4 ini, Pergunu mengusung tema “Peran Pendidikan dalam Melawan Eksploitasi Global”, tema tersebut berawal dari keresahan ketua umum pergunu atas kondisi pendidikan Indonesia yang semakin terombang-ambing oleh arus globalisasi.

Acara rakernas ini berbarengan dengan pengukuhan Guru Besar KH. Asep Saifuddin Chalim yang merupakan Ketua Umum Pergunu dan sekaligus Pendiri Ponpes Amanatul Ummah, beliau dijuluki sebagai Guru Mulia Pemersatu Bangsa. Orasi ilmiah beliau memang sudah ditunggu-tunggu oleh banyak orang terutama santrinya, karena beliau merupakan sosok kyai yang visioner serta mempunyai gagasan yang cemerlang. Pada akhirnya, Sabtu (29/02/2020) beliau menyampaikan orasinya di UIN Sunan Ampel Surabaya dengan judul Model Pendidikan dalam Menyelesaikan Problematika Masa Kini dan Masa Mendatang.

foto mahasiswa bersama pengurus PERGUNU

Ada hal yang menarik dalam acara besar ini, selain raker pergunu dan pengukuhan sang ketua, ternyata acara ini dimanfaatkan pula oleh para anggota Pergunu untuk bertemu kerabat, saudara dan anak didiknya yang melanjutkan pendidikan di Institut KH. Abdul Chalim (IKHAC), karena sebagian besar mahasiswa merupakan penerima beasiswa dari KH. Asep Saifuddin Chalim. Para penerima beasiswa tersebut merupakan perwakilan dari tiap-tiap provinsi di Indonesia yang nantinya akan dicetak menjadi kader-kader penerus Pergunu itu sendiri. Para mahasiswa begitu antusias dan sibuk menyambut kedatangan Pergunu dari daerahnya masing-masing. Mereka saling bersuka ria menabur canda tawa dan saling memotivasi untuk terus belajar, dan juga mengingatkan kepada para mahasiswa bahwa masyarakat di kampung halamannya sangat berharap agar setelah lulus nanti bisa menjadi penerang dan membawa manfaat bagi kemaslahatan umat. Momen ini menjadi obat rindu bagi para mahasiswa terutama bagi mahasiswa yang belum sempat pulang ke kampung halamannya. (Syauqi)