“Romantisme” Dalam Penafsiran Al-Qur’an


Harfin
harfinminkhaulylars@gmail.com

Bagi para sahabat kita yang belum mengenal baik dunia Filsafat, mungkin akan berfikir bahwa kata “Romatis” adalah istilah yang sering digunakan dalam masalah percintaan. Kalau era anak jaman now dikenal dengan istilah “Bucin”.
Tidak seperti itu yang saya maksudkan dalam tulisan ini. Jangan salah paham dulu.

“Romantisme” dikenal dalam dunia filsafat sebagai suatu gerakan perlawanan atas pemikiran rasionalisme dengan membuat suatu negativitas atas keunggulan rasio. Inti kekuatan dalam cara berfikir romantisme adalah kembali pada pemikiran mistik. Hal ini senada dengan bunyi istilah yang sering di agung-agungkan oleh kaum romantisme, yaitu “ back to nature, back to noble savage”, yang kurang lebih artinya adalah kembali ke masa lalu yang masih polos tak bercela, tak tercemar oleh polusi moral, dan terkontaminasi.

Dalam dunia penafsiran, kita sering mendengar istilah “kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits”. memang benar, karena sumber utama dari penafsiran adalah Al-Qur’an itu sendiri ( sebagaimana yang disebutkan dalam kaidah penafsiran, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an) dan juga Hadits sebagai sumber penafsiran pertama yang penjelasannya langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Akan tetapi, perlu kita pikirkan kembali dengan apa yang sudah kita ketahui selama ini mengenai Al-Qur’an, dimana sifatnya adalah shahih lii kulli zaman wa makaan.

Bagaimana cara umat muslim yang sudah jauh berbeda zamannya dari Rasulullah dan para sahabat, menafsirkan Al-Qur’an, agar pesan dan maknanya dapat dijadikan sebagai pedoman hidup dimasa mereka yang sudah berbeda tersebut? Andaikan kembali kepada penafsiran seperti yang dilakukan para sahabat Rasulullah pada era-nya, Akankah kita menemukan titik terang permasalahan umat akhir zaman yang sangat beragam? Lalu bagaimana cara untuk tetap mempertahankan eksistensi Al-Qur’an dengan slogan shahih lii kulli zaman wa makaan itu?

Olehnya itu, ada istilah yang diungkapkan oleh salah satu ulama mufassir, bahwa penafsiran itu adalah anak zamannya. Artinya produk penafsiran Al-Qur’an akan mengikuti keadaan realitas dimana Al-Qur’an tersebut ditafsirkan. Penafsiran yang diungkapkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya tidak lepas dari konteks dan keadaan pada saat Al-Qur’an itu turun. Sehingga, ketika produk penafsiran pada saat ini diharuskan kembali kepada konteks seperti apa yang ditafsirkan oleh Rasulullah, para sahabat, dan ulama terdahulu. Kita akan menemukan sejumlah persoalan dimana konteks saat ini tidak relevan lagi dengan hasil penafsiran tersebut. Otomatis, eksistensi Al-Qur’an dengan slogan shahih lii kulli zaman wa makaan tidak dapat dibenarkan lagi.

Kembali ke “Romantisme”.
Dalam dunia penafsiran, sikap “Romantisme” ini cenderung menjebak para mufassir tanpa disadari oleh mereka sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Dr.Muhammad Ulinnuha dalam bukunya “Metode Kritik Ad-Dakhil Fit-Tafsir”, beliau mengatakan;

“Para ulama meletakkan dasar dan metodologi penafsiran secara ketat agar mufassir tidak terjebak pada romantisme pra-konsepsi” (Muhammad Ulinnuha, 2019)

Almakin mengartikan “romantisme” ini sebagai sikap mengagung-agungkan pencapaian karya para ulama terdahulu (Almakin, 2015). Sehingga yang seharusnya Al-Qur’an mengalami perkembangan dan kemajuan dalam ungkapan penafsirannya, menjadi terhambat dengan sikap tersebut. Karena sudah menganggap bahwa penafsiran para ulama terdahulu adalah yang paling baik, sakral, tanpa celah. Inilah dalang dari tertutupnya pintu ijtihad dalam dunia penafsiran Al-Qur’an.

Kesimpulannya, boleh saja kita mengambil penafsiran dari para sahabat dan ulama terdahulu, namun pengambilan itu kita maksudkan untuk dijadikan sebagai dasar pijakan terhadap pengembangan cara pandang baru dalam menafsirkan Al-Qur’an. Contohnya adalah seperti apa yang digagas oleh Fazlur Rahman dalam teori Double Movement-nya. Mengembalikan penafsiran suatu ayat kepada konteks zaman dimana Al-Qur’an turun, kemudian di sesuaikan dengan kondisi dan keadaan sekarang ini.

Semoga calon-calon mufassir akan datang tidak terjebak pada sikap “Romantisme” seperti yang telah dijelaskan diatas.

Sumber:
https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-filsafat-romantisme/116382/2
Al-Makin, Antara Barat dan Timur, (Serambi Ilmu Semesta, 2015)
Muhammad Ulinnuha, Metode Kritik Ad-Dakhil Fit-Tafsir, (PT. Qaf Kreativa, 2019)