“Kajian al-Qur’an di Indonesia (Dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab)” Karya pertama kajian Tafsir al-Qur’an di Indonesia (REVIEW BUKU)

Oleh :

Saeful Rohman & Zainul Arifin

Mahasiswa IQT IKHAC Semester 5

Al-Quran dengan julukannya sebagai kitab yang Shahihun li kulli zaman wal makan semakin bertambah eksistensinya dengan banyaknya literature yang terus berkembang dari masa ke masa. Hal tersebut bukan hanya memberikan dampak kepada ekseitensi al-Quran itu sendiri, melainkan berdampak pula kepada eksistensi Islam sebagai agama yang sarat akan makna dan selalu menarik untuk di lirik.

Indonesia merupakan negara  dengan islam sebagai agama mayoritas. Siapa sangka jika di balik kata “mayoritas” yang melekat pada islam tersebut memiliki sejarah panjang. Hal tersebut dapat tergambar dari salah satu literature dengan sosok Howard M Federspiel, sang penulis yang berada di balik buah karya yang sangat bermanfaat ini.

Buku Kajian al-Quran di Indonesia dengan judul asli Popular Indonesian Literatur Of The Quran ini  merupakan salah satu buku yang  berhasil di transliterasi kedalam bahasa Indonesia dengan Drs. Tajul Arifin sebagai penerjemah. Hal ini, secara tidak langsung memberikan indikasi bahwa selain buku ini banyak diminati sebagai rujukan tentang sejarah kajian al-Quran di Indonesia, disisi lain mengindikasikan pula minimnya pengamat sejarah kajian al-Quran di Indonesia. Buku yang berisi 324 halaman ini terbit pertama pada tahun 1994 oleh penerbit Mizan Bandung.

Nama Howard M Federspiel bukan lagi menjadi soosok yang asing di kalangan akademisi. Pria kelahiran 1932 Negara bagian New York, AS. Tersebut merupakan professor di Institut studi-studi Islam Universitas McGill di Montreal, Kanada dan juga professor ilmu politik di Universitas Negara Bagian Ohio di Newark Ohio Amerika Serikat. Sebelumnya Ia belajar Universitas McGill di bawah bimbingan Fazlur Rahman, Wilfred Cantwell Smith, John Alden Williams, dan Muhammad Rasyidi.

Federspiel mempunyai latar belakang pendidikan di bidang antropologi, background pendidikan tersebutlah yang kemudian mendorong federspiel untuk konsern terhadap masalah-masalah yang terkait dengan manusia dan seluk-beluk kehidupannya, yang tentunya sedikit-banyak juga bersinggungan dengan aspek sejarah. Latar belakang pendidikan tersebutlah yang kemudian juga mendorong Howard M. Federspiel untuk menulis tesis M.A.-nya tentang Hajj M. Amin al-Husayni dan mandate Palestina pada dasawarsa 1920-1930, dan tesis Ph.D-nya di Indonesia berkenaan dengan Persatuan Islam (Persis) Bandung dan Bangil, dan juga yang memotivasi dirinya untuk meneliti kajian Al Qur’an di Indonesia.

Berbicara tentang sejarah perkembangan kajian al-Quran di Indonesia maka buku ini merupakan buku yang dapat dikatakan komperhensif dalam upayanya menggambarkan seluk-beluk kajian al-Quran di Indonesia, khususnya di bidang tafsir al-Qur’an yang dirangkum oleh Federspiel kedalam 7 bab, yang terbagi kepada 3 kelompok.

Pada pendahuluan ia memulainya dengan menyinggung sedikit kilas balik tentang sejarah panjang studi Islam di Asia tenggara khususnya Indonesia yang kemudian ia teruskan secara lebih luas pada Bab Pertama dengan menggambarkan sejarah Indonesia pada abad ke-20 dengan memfokuskan narasinya secara lebih gamblang pada bagian Al-Quran Dalam sejarah Indonesia di era Modern yang ia tarik secara garis besar kepada masa permualaan abad ke-20 sampai tahun 1945 dengan masa kedua yang mecakup masa kemerdekaan samppai saat buku ini di terbitkan.

Lebih lanjut pada bab ke dua, Federspiel mengulas tentang sejarah Intelektual Islam yang ia klasifikasikan kedalam empat periode dengan menempatkan peranan ulama dan membetrikan gambaran tentnag arati penting Bahasa Arab bagi kalangan islam dengan upaya kilas balik ke masa Khulafaur-Rasyidin. Upaya yang ia tawarkan ini merupakan salah satu bentuk kejeliannya dan  upaya mendidik bukan hanya meninggalkan secercah tulisannya tersebut.

Apabila Pada bab ke dua ia memulainya ddengan mengulas sejarah intelektual Islam maka pada bab tiga sampai kepada bab ke-6 ia melakukan analisisnya yang berkaitan dengan kajian al-Quran di Indonesia.

Bagian ini merupakan intisari dari tujuannya menerbitkan buku ini, ia mengulas tentang karya-karya para ilmuan muslim Indonesia yakni karya seputar tafsir al-Qur’an dan bagaimana al-Qur’an itu dipelajari, baik itu untuk tujuan-tujuan ritual keagamaan maupun untuk kegiatan akademik yaitu memahami berbagai problematika kontemporer di dalamnya. Keempat bab ini juga merupakan inti sari dalam buku kajian al-Qur’an di indonesia ini.

Bab Terakhir dalam bagian buku ini merupakan ikhtisar atau ringkasan dari analisisnya tentang karya-karya yang ada pada  bab 3-6. pada ringkasan tersebut, Federspiel juga mencantumkan kesimpulan-kesimpulan tentang kajiannya dan juga ditambah dengan informasi para pengarang beserta dengan sumber yang digunakan di dalam upaya menyusun karya tersebut.

Manusia adalah makhluk Allah swt yang diciptakan paling sempurna, manusia memiliki kemampuan kognitif untuk memproses informasi yang diperoleh dari lingkungan yang berada di sekelilingnya melalui indera yang dimilikinya, namun dibalik kesempurnaan manusia juga makhluk Allah swt yang tak luput dari kesalahan dan ketidak tepatan, seperti kata pepatah yang  masyhur “Tak ada gading yang tak retak”, begitu juga dengan Howard M Federspiel, didalam buku kajian al-Qur’an di Indonesia ini memiliki beberapa kekurangan.

Pertama, sangat disayangkan karena penelitian Federspiel hanya diawali pada periode Mahmud Yunus, padahal sebelum itu, sudah dikenal beberapa tafsir karya anak Bangsa yang dinilai sebagai pondasi dasar bahkan jembatan upaya tarjamah tafsiriyah di tanah Melayu. Sebagaimana menurut asumsi Azyumardi, bahwa sejarah perkembangan intelektualisme Indonesia abad 17–18 banyak yang terlupakan oleh para peneliti. Sebagian besar perhatian para Indosianis dan ahli Asia Tenggara ditujukan pada persoalan sejarah politik muslim. Padahal, abad 17–18 M, merupakan abad yang paling dinamis dalam sejarah intelektualisme muslim Indonesia, sebab pada saat itu muncul ulama besar di Aceh, salah satunya adalah Abdul Rouf al-Singkili, yang dikenal populer dengan karya besarnya dalam bidang tafsir, yaitu Turjuman al-Mustafid. Dalam bidang fiqh muncul, Nuruddin ar-Raniri dengan karya monumentalnya, Sirath a- Mustaqim (ditulis tahun 1634 M. dan selesai pada 1644 M.) Kemudian, Abdul Shamad al-Palimbani dengan magnum opus-nya, Hidayat al- Salikin, sebuah kitab tasawuf yang berisi aturan-aturan syar’i dengan penafsiran-penafsiran esoteris.

Kedua, Kajian Federspiel ini, jika ditinjau dari segi cakupan literatur bisa dibilang sangat kaya, dalam konteks analisis tema model studi Al Qur’an di Indonesia tergolong baru. Namun dari sisi metodologi tafsir, kajian ini belum memberikan kontribusi yang signifikan. Ini terjadi karena sejak semula kajiannya lebih diarahkan pada kepopuleran literatur dengan dasar jangkauan distribusi literatur tersebut.

Ketiga, seperti yang ditulis oleh Islah Gusmian, kategorisasi tafsir yang dibuat oleh Federspiel memang bermanfaat dalam rangka melihat dinamika penulisan tafsir di Indonesia. Namun dari segi pemilahannya itu tampak agak kacau. Tiga tafsir yang dianggap oleh Federspiel mewakili generasi kedua pada dasarnya telah muncul pada pertengahan dan akhir tahun 1950-an, yang dalam kategorisasi yang ia susun masuk dalam periode pertama. Hal serupa juga terjadi pada kategorisasi periode kedua.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada, penelitian Federspiel ini perlu diapresiasi karena penelitian ini adalah satu-satunya penelitian yang komperehensif tentang kajian Al Qur’an di Indonesia dan memberikan konstribusi yang besar terhadap kekayaan pengetahuan, khusunya dalam bidang kajian Al-Qur’an di Indonesia. maka tak heran jika saat ini hasil penelitiannya tersebut merupakan buku wajib bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian tafsir di Indonesia.