Wisata Literasi Living Qur’an dan Hadis bersama CRIS Foundation


Center for Research and Islamic StudiesFoundation atau yang lebih dikenal dengan CRIS Foundation kembali mengadakan agenda kegiatannya yaitu Wisata Literasi. Wisata yang ke-4 ini diadakan pada hari kamis tanggal 27 Juni 2019 dengan tajuk “Literasi Substantif-Kontekstual Dengan Menjaga Kearifan Lokal”. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh member dari CRIS sendiri, tetapi juga oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki minat untuk mengembangkan bakat tulis menulisnya. Tidak terkecuali mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut KH. Abdul Chalim Mojokerto.

Kegitan pertama yang dilakukan adalah berkunjung ke UIN Sunan Kalijaga. Disana mahasiswa mempelajari ilmu Living Qur’an-Hadis kepada para pakar dari kajian ini, yaitu Ahmad Rafiq, S.Ag., M.A., P.hD. yang merupakan ketua Program Doktoral Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan sekretaris Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAIT), Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag., M.Ag., ketua  Asosiasi Ilmu Hadis (ASILHA) dan yang terakhir adalah Lien Iffah Naf’atu Fina, S.Th.I., M. Hum. sebagai pengganti dari Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A. yang tidak dapat mengisi materi pada pagi itu.

Dijelaskan bahwa Living Qur’an-Hadis merupakan kajian atau pendekatan yang dilakukan untuk menelusuri asal muasal dari sebuah budaya yang telah hidup dimasyarakat yang mengutip al-Qur’an dan Hadis. Kegitan Living Qur’an-Hadis telah lama dipraktekkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Jika di Indonesia, maka dimulai sejak penyebaran islam oleh wali songo. Demikian yang dipaparkan oleh bapak Ahmad Rofiq yang melakukan penelitian disertasinya pada tahun 2003-2005 di Suku Dayak Banjarmasin. Penduduknya yang berlatar belakang non-muslim sering mengutip potongan ayat al-Qur’an dalam kesehariannya, sehingga ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Riset disertasi inilah yang kemudian menjadi pencetus lahirnya kajian Living Qur’an di Indonesia. Namun, masih ada pro-kontra di masyarakat sebagaimana yang disampaikan oleh ibu Lien Iffah.

Setelah berkunjung ke UIN Sunan Kalijaga, peserta melanjutkan perjalanan ke Radio Buku. Disana mereka diajarkan cara menulis asik di internet dan dimotivasi untuk semangat menulis. Teman-teman sangat antusias dengan adanya pemamparan dari Mba Raden yang merupakan salah satu penulis dan juga sebagai editor di Radio Buku tersebut. Mereka banyak berkonsultasi mengenai cara menulis yang asik. Ia berpesan bahwa saat menulis harus istiqomah serta butuh ketelitian dan keuletan.

Sebagai penutup dari rangkaian kagiatan, teman-teman diajak sowan kepesantren budaya yaitu Pondok Pesantren Kaliopak dan disambut oleh KH. M. Jadul Maulana. Pesantren ini senantiasa menanamkan nilai-nilai budaya kepa dasantri-santrinya. Sejarah berdirinya pesantren tersebut karena didaerah sekitar banyak masyarakat yang melestarikan budaya-budaya yang telah diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Dari sowan ini, ada sebuah logika baru yang diperoleh yaitu bahwa sebenarnya kita bukan maju kedepan tapi malah maju kebelakang dan mundur kedepan. Logika ini merupakan pemikiran terhadap masyarakat yang banyak melupakan budaya lokal, padahal budaya yang kita miliki lebih tinggi nilainya bila dibandingkan dengan budaya barat yang sedang tren dimasyarakat. (Parhatunniza/Tiyola A.)